Dua Penyebab Disfonia Akibat Gangguan Neurologis Perifer

Dua Penyebab Disfonia Akibat Gangguan Neurologis Perifer

1Disfonia merupakan istilah umum untuk setiap gangguan suara yang disebabkan kelainan pada organ–organ fonasi, terutama laring, baik yang bersifat organik maupun fungsional. Disfonia bukan merupakan suatu penyakit, tetapi merupakan gejala penyakit atau kelainan pada laring. Setiap keadaan yang menimbulkan gangguan dalam getaran, gangguan dalam ketegangan serta gangguan dalam pendekatan (aduksi) kedua pita suara kiri dan kanan akan menimbulkan disfoni.2

Gangguan suara dapat berupa suara parau (hoarseness), suara terdengar kasar (roughness) dengan nada lebih rendah dari biasanya, suara lemah (hipofonia), hilang suara (afonia), suara tegang dan susah keluar (spatik), suara terdiri dari beberapa nada (diplofonia), nyeri saat bersuara (odinofonia) atau ketidakmampuan mencapai nada atau intensitas tertentu.
*) Bulbar palsy

Bulbar palsy adalah kelemahan atau kelumpuhan otot yang disediakan oleh inti motor batang otak lebih rendah, khususnya saraf kranial IX-XII. Saraf trigeminus dan facial dapat terlibat, tetapi ini tidak semestinya dalam bulba  atau medula. Kelemahan rahang, wajah, sternokleidomastoid (SCM),  trapezius,  lidah, faring, dan laring yang menonjol, bersama dengan jatuhnya langit-langit, depresi refleks gag, pengumpulan air liur dalam faring, batuk yang lemah, dan terbuang, fasiculating lidah. Hal ini dapat terjadi pada berbagai gangguan termasuk difteri, poliomielitis, myasthenia gravis, distrofi myotonic, botulisme, dan malformasi Chiari. Bulbar palsy progresif adalah tipe yang berbeda pada onset dewasa dari penyakit motor neuron yang disebabkan oleh lesi yang mempengaruhi inti motor saraf cranial.

Pseudobulbar palsy sering sekunder pada multiple lesi vascular bilateral di atas batang  otak tetapi juga dapat disebabkan oleh penyakit motor neuron. Kelemahan otot-otot bulbar dengan hyperrefleksi (gag hiperaktif dan brisk jaw jerk), menunjukkan penyebab dari upper motor neuron. Lidah berkontraksi dan kaku dan tidak dapat digerakkan dengan cepat dari sisi ke sisi. Selain itu, labilitas emosional (menangis atau tawa tanpa alasan), gangguan kognitif subkortikal, dan disartria dengan tebal, cadel, sulit, dan kadang-kadang muncul artikulasi peledak. Hypernasalitas bisa ditemukan, namun refleks palatal dan faring  jarang.  Penting untuk dicatat bahwa setiap penyakit yang melibatkan jalur corticobulbar dapat menyebabkan pseudobulbar palsy termasuk MS,neoplasma, ensefalitis, dan penyakit vaskular.
*) Amyotropik Lateral Sklerosis

Amyotrophic lateral sclerosis (ALS) adalah degenerasi progresif kornu anterior tulang belakang ,inti saraf kranial di bawahnya, jalur kortikospinal dan kortikobulbar sehingga muncul defisit neurologis pada Upper Motor Neuron dan Lower Motor Neuron. Onset penyakit biasanya setelah umur 50 tahun dan bersifat fatal dalam 3-6 tahun setelahnya. Insiden kejadian pertahun adalah 2/100.000, dengan kejadian pada laki-laki lebih dominan daripada perempuan. 5% kasus terkait autosom dominan.

Kelemahan otot bulbar merupakan tanda awal pada 20%  pasien. Gangguan fungsi lidah paling sering terjadi, manifestasinya berupa suara serak, disfagi, dan hipersalivasi. Pasien bisa saja sukar batuk dan bernafas akibat kelemahan bahkan paralisis fungsi respirasi. Gejala lain dapat berupa kelemahan progresif, atropi, fasikulasi dan hiperreflek otot-otot ekstremitas. Pada umumnya tidak ada keterlibatan otot-otot ekstraokular mata ataupun spinkter.

8Kerusakan yang sistematik melanda kornu anterior dan jaras kortikobulbar/ kortikospinal, menimbulkan kelumpuhan yang disertai tanda-tanda LMN dan UMN secara bersamaan. Terutama pada tahap dini kombinasi tersebut tampak dengan jelas. Atrofi dan fasikulasi pada otot-otot tenar, hipotenar dan interosea berkombinasi dengan hiperrefleksi dan adanya reflek patologik. Tetapi pada tahap lanjut tanda-tanda UMN akan lenyap dan hanya tinggal tanda-tanda LMN saja. Di batang otak, inti-inti saraf motorik terkena proses degeneratif itu, sehingga otot lidah dan otot-otot menelan lumpuh secara bilateral. Atrofi dan fasikulasi tampk pada lidah dengan jelas. Namun demikian reflek masseter dapat meninggi dan forced crying dan forced laughing dapat disaksikan.13

Tidak ada pengobatan khusus untuk penyakit motor neuron, namun terapi percobaan berbagai jenis nerve growth factor sedang dikembangkan. Terapi simptomatik yang diberikan dapat berupa antikolinergik untuk hipersalivasi, percutaneous endoscopic gastrostomy (PEG) tube, dan trakeotomi dengan menggunakan ventilasi. Motor neuron disease adalah penyakit progresif dan selalu bersifat fatal dalam 3-6 tahun dengan penyebab kematian  paling sering adalah infeksi pulmonal.

%d bloggers like this: