Faktor Fisik Penyebab Depresi

Faktor Fisik Penyebab Depresi

2
Banyak faktor penyebab depresi yang bisa di jelaskan secara ilmiah. Tetapi, faktor-faktor penyebab depresi tersebut biasanya tidak langsung menyebabkan gangguan terhadap penderitanya, tetapi faktor penyebab tersebut menjadi bahaya laten, yang akan muncul dikemudian hari jika terjadi sesuatu yang bisa menjadi faktor pemicunya.
Gangguan depresi pada umumnya dicetuskan oleh peristiwa hidup tertentu. Kenyataannya peristiwa hidup tersebut tidak selalu diikuti depresi, hal ini mungkin disebabkan karena ada faktor-faktor lain yang ikut berperan mengubah atau mempengaruhi hubungan tersebut

 

*) Faktor Genetik
Seseorang yang dalam kelurganya diketahui menderita depresi berat memiliki risiko lebih besar menderita gangguan depresi daripada masyarakat pada umumnya. Gen (kode biologis yang diwariskan dari orang tua) berpengaruh dalam terjadinya depresi tetapi ada banyak gen di dalam tubuh kita dan tidak ada seorangpun peneliti yang mengetahui secara pasti bagaimana gen bekerja dan tidak ada bukti langsung bahwa penyakit depresi yang disebabkan oleh faktor keturunan (McKenzie, 1999).
Pengaruh gen lebih penting pada depresi berat daripada depersi ringan dan lebih penting pada indvidu muda yang menderita depresi daripada individu yang lebih tua. Gen lebih berpengaruh pada orang-orang yang punya periode di mana mood mereka tinggi dan mood rendah atau gangguan bipolar. Tidak semua orang biasa terkena depresi, bahkan ada depresi dalam keluarga, biasanya diperlukan suatu kejadian hidup yang memicu terjadinya depresi (Kendler, 1992).

 

*) Susunan Kimia Otak dan Tubuh
Beberapa bahan kimia di dalam otak dan tubuh memegang peranan yang besar dalam mengendalikan emosi kita. Pada orang depresi ditemukan adanya perubahan dalam jumlah bahan kimia tersebut. Hormon noradrenalin yang memegang peranan utama dalam mengendalikan otak dan aktivitas tubuh, tampaknya berkurang pada mereka yang mengalami depresi. Pada wanita, perubahan hormone dihubungkan dengan kelahiran anak dan menopause juga data meningkatkan risiko terjadinya depresi (McKenzie, 1999).

 

*) Faktor Usia

Berbagai penelitan mengungkapkan bahwa golongan usia muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi. Hal ini dapat terjadi karena pada usia tersebut terdapat tahaptahap serta tugas perkembangan yang penting, yaitu peralihan dari masa anak-anak ke masa remaja, remaja ke dewasa, masa sekolah ke masa kuliah atau bekerja, serta masa pubertas ke masa pernikahan. Namun sekarang ini usia rata-rata penderita depresi semakin menurun yang menunjukan bahwa remaja dan anak-anak semakin banyak yang terkena depresi. Survey masyarakat terakhir melaporkan prevalensi yang tinggi dari gejala-gejala depersi pada golongan usia dengan dewasa muda 18-44 tahun (Wikinson, 1995).
*) Gender1
Adanya perubahan hormonal dalam siklus menstruasi yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran dan juga menopause yang membuat wanita lebih rentan menjadi depresi. Penelitan Angold (1998) menunjukan bahwa periode meningkatkan risiko deresi pada wanita terjadi ketika masa pertengahan pubertas. Data yang dihimpun oleh World Bank menyebutkan prevalensi terjadinya depresi sekitar 30% terjadi pada wanita dan 12,6% dialami oleh pria (Desjarlis, 1995).

Radloff dan Rae (1979) berpendapat bahwa adanya perbedaan tingkat depresi pada pria dan wanita lebih ditentukan oleh factor biologis dan lingkungan, yaitu adanya perubahan peran sosial sehingga menimbulkan berbagai konflik serta membutuhkan penyesuaian diri yang lebih intens, adanya kondisi yang penuh stressor bagi kaum wanita, misalnya penghasilan dan tingkat pendidikan yang rendah dibandingkan pria, serta adanya perbedaan fisiolog dan hormonal disbanding pria, seperti masalah reproduksi serta berbagai perubahan hormone yang dialami wanita sesuai kodratnya. Lebih jauh lagi jumlah wanita tercatat mengalami depersi biasa juga disebabkan oleh pola komunikasinya.

Menurut Pease dan Pease (2001), pola komunikasi wanita berbeda dengan pria. Jika seorang wanita mendapatkan masalah, maka wanita tersebut ingin mengkomunikasikannya dengan orang lain dan memerlukan dukungan atau bantuan orang lain, sedangkan pria cenderung untuk memikirkan masalahnya, pria juga jarang menunjukan emosinya sehingga kasus depresi ringan dan sedang pada pria jarang diketahui

 

*) Gaya Hidup
Banyak kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat berdampak pada penyakit misalnya penyakit jantung juga dapat memicu kecemasan dan depresi. Tingginya tingkat stress dan kecemasan digabung dengan makanan yang tidak sehat dan kebiasaan tidur serta olahraga untuk jangka waktu yang lama dapat menjadi faktor beberapa orang mengalami depresi (lumongga, 2009). Penelitian menunjukan bahwa kecemasan dan depresi berhubungan dengan gaya hidup yang tidak sehat pada pasien berisiko jantung. Gaya hidup yang tidak sehat misalnya tidur tidak teratur, makan tidak teratur, mengkonsumsi jenis makanan fast food atau makanan yang mengandung perasa, pengawet dan perwarna buatan, kurang berolahraga, merokok dan minum-minuman keras.

*) Penyakit fisik

Penyakit fisik dapat menyebabkan penyakit. Perasaan terkejut karena mengetahui kita memiliki penyakit serius dapat mengarahkan pada hilangnya kepercayaan diri dan penghargaan diri juga depresi, alasan terjadinya cukup kompleks
*) Obat-obatan
Beberapa obat-obatan untuk pengobatan dapat menyebabkan depersi. Namun bukan berarti obat tersebut menyebabkan depresi, dan menghentikan pengobatan dapat lebih berbahaya daripada depresi.
Menurut McKenzie (1999) ada beberapa obat yang menyebabkan depresi yaitu:

   
-Tablet antieplipsy
   

-Obat anti tekanan darah tinggi
   

-Obat antimalaria-melfloquine (lariam)
   

-Obat antiparkinson
   

-Obat kemotrapi
   

-Pil kontrasepsi
   

-Digitalis
   

-Diuretic (jantung dan tekanan darah tinggi)
   

-Interferon-alfa (hepatitis c)
   

-Obat penenang
   

-Terapi steroid

 

2*) Obat-obatan terlarang
Obat-obatan terlarang telah terbukti dapat menyebabkan depresi karena mempengaruhi kimia dalam otak dan menimbukan ketergantungan. Menurut Brees (2008) di antara obatobatan terlarang yang menyebabkan depresi seperti mariyuana, heroin, kokain, ekstasi, sabu-sabu.
*) Kurang Cahaya Matahari

Kebanyakan orang merasa lebih baik di bawah sinar matahari daripada hari mendung, tetapi hal ini sangat berpengaruh pada beberapa individu. Mereka baik-baik saja ketika musim panas tetapi menjadi depresi ketika musim dingin. Mereka disebut menderita seasonal affective disorder (SAD). SAD berhubungan dengan tingkat hormon yang disebut melatonin yang dilepaskan dari kelenjar pineal ke otak. Pelepasannya sensitifnya terhadap cahaya yaitu memberikan cahaya sebesar 10.000 luc kadang-kadang efektif menghilangkan simtom dari seasonal affective disorder, empat jam terkena cahaya terang dalam sehari dapat mengurangi seresi dalam waktu seminggu.

%d bloggers like this: