Kebutuhan Berafiliasi Pengaruhi Tingkatan Depresi

Kebutuhan Berafiliasi Pengaruhi Tingkatan Depresi

1
Setiap individu memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi dalam rangka mempertahankan kehidupanya, baik anak-anak maupun dewasa. Kebutuhan merupakan kekurangan dalam diri individu yang sangat diperlukan dalam kehidupannya. Kekurangan itu memerlukan adanya pemenuhan untuk kelangsungan dan kesejahteraan dalam hidupnya. Apabila kekurangan itu tidak terpenuhi, maka individu tersebut akan mengalami frustasi.

Sebagian besar hasrat dan dorongan pada seseorang adalah saling berhubungan dengan orang lain, salah satu alasannya adalah karena individu memiliki kebutuhan akan afiliasi, kebutuhan afiliasi termasuk salah satu motif sosial yaitu motif yang diperoleh dari interaksi interpersonal dan tujuan yang ingin dicapai mempunyai interaksi dengan orang lain. Individu dengan kebutuhan afiliasi yang tinggi memiliki keinginan untuk memelihara suatu persahabatan, amat peka mengenai hubungannya dengan orang lain dan lebih senang menaruh perhatian pada hubungan sosialnya (James & Joan, 1990 : 225). Menurut Adler (A. Supratiknya, 1994: 241), manusia selain sebagai individu yang berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri juga merupakan makhluk sosial. Individu menghubungkan dirinya dengan orang lain, ikut dalam kerjasama sosial, menempatkan kesajahteraan sosial diatas kepentingan dirinya sendiri. Minat sosial yang ada pada dirinya terjelma dalam bentuk-bentuk kerjasama, hubungan antar pribadi dan hubungan sosial, identifikasi dengan kelompok, empati dan sebagainya.

Selain itu menurut Murray (dalam Hall & Lindzey, 1989 : 35) kebutuhan afiliasi adalah kebutuhan untuk mendekatkan diri, bekerjasama atau membalas ajakan orang lain yang berkelompok, membuat senang dan mencari afeksi dari objek yang disukai, patuh dan tetap setia kepada seorang kawan. Dalam kebutuhan afiliasi ini terkandung kepercayaan dan kemauan, baik afeksi dalam bersahabat, sosial, menyenangkan penuh kasih sayang dan kepercayaan serta bersifat baik. Kebutuhan berafiliasi berhubungan dengan keinginan individu untuk berteman dan keinginan untuk mempertahankan yang telah terjalin agar dapat berjalan dengan baik.

Chaplin (1999 : 14) kebutuhan afiliasi adalah kebutuhan untuk bersama dengan orang lain, penbenyukan persahabatan, ikut serta dalam kelompok-kelompok tertentu, kerjasama kooperatif. Sedangkan menurut Barkowitz (dalam A.S Munandar, 1993 : 77) kebutuhan afiliasi adalah kebutuhan yang mendasari aktifitas individu dalam bereaksi dengan orang lain.

Selain itu McClelland (dalam A.S Munandar, 1994 : 77) kebutuhan afiliasi merupakan dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain, dan tidak mau melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Sedangkan menurut Mc Adams dan Contantian (dalam Sarlito. W.S, 1994 : 77) kebutuhan afiliasi berhubungan dengan bagaimana keinginan sesorang untuk bersama dengan orang lain daripada seorang diri.

Dari beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa kebutuhan afiliasi adalah kebutuhan yang mendorong seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya dengan cara menjalin persahabatan, bekerjasama dan berada bersama – sama dengan orang lain.
*) Karakteristik Kebutuhan Berafiliasi

Kebutuhan afiliasi merupakan kebutuhan yang timbul dari dalam diri individu untuk berinteraksi dengan lingkungan sosilanya. Individu yang kebutuhan berafiliasinya tinggi terdorong untuk membentuk persahabatan. Individu yang mempunyai kebutuhan afiliasi yang tinggi juga memiliki karakteristik tertentu.

Karakteristik yang ditampilkan oleh individu yang memiliki afiliasi yang kuat dikemukakan oleh McClelland (1987 : 356) adalah sebagai berikut :
a. Akan tampil lebih baik jika ada insentif afiliasi

Individu butuh akan penghargaan maupun identitas diri, kebutuhan ini akan dapat terpenuhi apabila individu bersama dengan orang lain, yaitu dengan cara mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya dan aktif mengikuti kegiatan selain menghasilkan prestasi juga mengandung insentif afiliasi berupa penghargaan dan identitas diri dari orang lain.
b. Mempertahankan hubungan antar induvidu

Individu dengan kebutuhan afiliasi yang tinggi akan belajar hubungan sosial dengan cepat. Lebih peka dan banyak berkomunikasi dengan orang lain, juga berharap untuk mempertahankan hubungan dengan orang lain. Mempertahankan hubungan antar individu akan tampak bila individu berusaha untuk terlibat dengan orang – orang disekitarnya, diantaranya dengan menjalin keakraban dengan orang lain dan menjaga persahabatan yang telah terbina.
c. Kerjasama dan menghindari persaingan

Individu yang memiliki kebutuhan afiliasi yang tinggi cenderung setuju dengan pendapat orang lain yang tidak dikenal, yang tidak sependapat dengannya selama orang tersebut dianggap menarik. Individu dengan kebutuhan afiliasi yang tinggi senang bekerjasama dengan teman – teman dan bersikap mengalah dari orang lain untuk menghindari situasi yang bersifat kompetitif.
d. Rasa takut akan penolakan

Individu dengan kebutuhan afiliasi yang tinggi akan menunjukkan terhadap situasi penolakan, merasa sendiri bila ditinggalkan secara fisik dan menekankan rasa saling mengasihi. Individu berusaha bertindak dalam berbagai cara untuk menghindari konflik dan persaingan karena mereka merasa takut mendapat umpan balik negatif dari orang lain. Agar tidak mendapat umpan balik dari orang lain dengan cara berbuat baik dengan sesama teman dan mengikuti aturan yang ada.
e. Tingkah laku kepemimpinan dalam kelompok

Karakteristik pemimpin yang memiliki kebutuhan afiliasi yang tinggi, dalam tugas senang berada bersama anggota kelompoknya dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengurangi perbedaan antar anggota agar dapat selalu bersama – sama. Selain itu karakteristik pemimpin yang memiliki kebutuhan afiliasi yang tinggi mampu mengarahkan aktifitas sebuah kelompok yang terorganisasi menuju pencapaian suatu tujuan. Individu yang memiliki tipe tingkah laku kepemimpinan dapat membangkitkan semangat anggotanya, memberi pengarahan dan memberi petunjuk kepada anggota kelompoknya, ikut dalam kegiatan kelompoknya. Tingkah laku kepemimpinan lebih mengutamakan anggota daripada tugas yang harus diselesaikan oleh kelompoknya dan bersikap adil kepada anggota kelompoknya tanpa membedakan satu sama lain.
Menurut A.S Munandar (1994 : 77) seseorang yang memiliki dorongan persahabatan yang tinggi akan memperlihatkan ciri – ciri tingkah laku sebagai berikut:

a. Lebih suka bersama dengan orang lain.

b. Sering berhubungan dengan orang lain.

c. Lebih memperlihatkan segi hubungan pribadi dalam bekerja daripada tugas-tugas yang
ada pada pekerjaan itu.

d. Melakukan pekerjaannya lebih giat apabila bekerjasama dengan orang lain.

Salah satu analisis kebutuhan afiliasi dikemukakan oleh Weiss (dalam Sears, 1985 : 211), yaitu apa yang disebutnya enam dasar “ketentuan hubungan sosial” yang diberikan berbagai hubungan bagi individu, yaitu :

a. Kasih sayang, merupakan rasa aman dan ketenangan yang diberikan oleh hubungan yang sangat erat6

b. Integrasi sosial, merupakan perasaan berbagai minat dan sikap yang sering diberikan oleh hubungan dengan teman, rekan sekerja atau teman seregu. Hubungan semacam ini memungkinkan adanya persahabatan dan memberikan rasa mempunyai kepada kelompok

c. Harga diri, diperoleh jika ada orang yang mendukung perasaan kita bahwa kita adalah orang yang berharga dan berkemampuan

d. Rasa persatuan yang dapat dipercaya, melibatkan pengertian bahwa orang akan membantu kita pada saat kita membutuhkan

e. Bimbingan, diberikan oleh konselor, orang tua, guru, teman-teman lain yang nasehat dan informasinya kita harapkan

f. Kesempatan untuk mengasuh, terjadi jika kita bertanggung jawab terhadap kesejahteraan orang lain. Mengasuh orang lain memberikan perasaan bahwa kita dibutuhkan dan penting.

%d bloggers like this: