Mendeteksi Tanda Tanda Disleksia

Mendeteksi Tanda Tanda Disleksia

   
2Tanda-tanda disleksia bisa dideteksi sejak dini. Pada usia  prasekolah, pengidap disleksia biasanya kidal atau tak mahir jika cuma  memakai satu tangan, bingung atau sering tertukar kanan dan kiri. Selain  itu, mereka suka tergesa-gesa, miskin kosakata, atau kesulitan memilih  terminologi atau nama yang tepat. Misalnya, “Saya tak mau berenang  karena kolamnya tebal,” (baca: dalam) atau “Kemarin saya diberi kue sama  si itu.”
   

*) Pada usia 5-8 tahun, hal itu ditandai dengan kesulitan  mempelajari huruf dan bunyinya, menggabungkan huruf menjadi kata,  membaca, dan memegang alat tulis. “Pada umur 7 tahun seharusnya bisa  menguasai huruf. Jika pada umur 8-9 tahun masih tak bisa, dimungkinkan  disleksia,” kata dia.
   

*) Tanda lain adalah kebingungan soal konsep  ruang dan waktu serta kesulitan mencerna perintah yang disampaikan  secara verbal, cepat, dan berurutan. Namun, yang patut dipahami adalah  disleksia bukan karena si penyandang bodoh. Beberapa penyandang  disleksia justru orang yang brilian.
   

*) Terdapat hambatan dalam masalah fonologi: Yang dimaksud masalah fonologi adalah hubungan  sistematik antara huruf dan bunyi. Misalnya mereka mengalami kesulitan  membedakan ”paku” dengan ”palu”; atau mereka keliru memahami kata-kata  yang mempunyai bunyi hampir sama, misalnya ”lima puluh” dengan ”lima  belas”. Kesulitan ini tidak disebabkan masalah pendengaran, tetapi  berkaitan dengan proses pengolahan input di dalam otak.
   

3*) Terdapat hambatan dalam masalah mengingat perkataan: Kebanyakan anak disleksia mempunyai level  kecerdasan normal atau di atas normal. Namun, mereka mempunyai  kesulitan mengingat perkataan. Mereka mungkin sulit menyebutkan nama  teman-temannya dan memilih untuk memanggilnya dengan istilah “temanku di  sekolah” atau “temanku yang laki-laki itu”. Mereka mungkin dapat  menjelaskan suatu cerita, tetapi tidak dapat mengingat jawaban untuk  pertanyaan yang sederhana.
  

*) Terdapat hambatan dalam masalah penyusunan yang  sistematis atau berurut: Anak disleksia mengalami kesulitan menyusun  sesuatu secara berurutan misalnya susunan bulan dalam setahun, hari  dalam seminggu, atau susunan huruf dan angka. Mereka sering ”lupa”  susunan aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya, misalnya lupa  apakah setelah pulang sekolah langsung pulang ke rumah atau langsung  pergi ke tempat latihan sepak bola. Padahal, orangtua sudah  mengingatkannya bahkan mungkin hal itu sudah pula ditulis dalam agenda  kegiatannya. Mereka juga mengalami kesulitan yang berhubungan dengan  perkiraan terhadap waktu. Misalnya mereka mengalami kesulitan memahami  instruksi seperti ini: ”Waktu yang disediakan untuk ulangan adalah 45  menit. Sekarang pukul 08.00. Maka 15 menit sebelum waktu berakhir, Ibu  Guru akan mengetuk meja satu kali”. Kadang kala mereka pun ”bingung”  dengan perhitungan uang yang sederhana, misalnya mereka tidak yakin  apakah uangnya cukup untuk membeli sepotong kue atau tidak.
   

*) Terdapat hambatan dalam masalah ingatan jangka pendek: Anak disleksia mengalami kesulitan  memahami instruksi yang panjang dalam satu waktu yang pendek. Misalnya  ibu menyuruh anak untuk “Simpan tas di kamarmu di lantai atas, ganti  pakaian, cuci kaki dan tangan, lalu turun ke bawah lagi untuk makan  siang bersama ibu, tapi jangan lupa bawa serta buku PR Matematikanya,  ya”, maka kemungkinan besar anak disleksia tidak melakukan seluruh  instruksi tersebut dengan sempurna karena tidak mampu mengingat seluruh  perkataan ibunya.
   

*) Terdapat hambatan dalam masalah pemahaman sintaks: Anak  disleksia sering mengalami kebingungan dalam memahami tata bahasa,  terutama jika dalam waktu yang bersamaan mereka menggunakan dua atau  lebih bahasa yang mempunyai tata bahasa yang berbeda. Anak disleksia  mengalami masalah dengan bahasa keduanya apabila pengaturan tata  bahasanya berbeda daripada bahasa pertama. Misalnya dalam bahasa  Indonesia dikenal susunan diterangkan–menerangkan (contoh: tas merah).  Namun, dalam bahasa Inggris dikenal susunan menerangkan-diterangkan  (contoh: red bag).
   

1*) Masalah yang juga bisa  mengikuti penyandang disleksia di antaranya  konsentrasi, daya ingat  jangka pendek (cepat lupa dengan instruksi).  “Penyandang disleksia juga  mengalami masalah dalam pengorganisasian.  Mereka cenderung tidak  teratur. Misalnya, memakai sepatu tetapi lupa  memakai kaus kaki. Masalah  lainnya, kesulitan dalam penyusunan atau  pengurutan, entah itu hari,  angka, atau huruf.
   

*) Biasanya disertai  attention-deficit hyperactivity disorder,  autisme, demam bengong (epilepsi tipe lena), keterbelakangan mental,  dan kecerdasan di atas rata-rata. “Jika ada kelainan lain, perlu diberi  terapi multidisiplin.
   

*) Penyandang disleksia juga  punya sisi positif. Biasanya mereka memiliki kemampuan di bidang lain  yang baik, bahkan melebihi rata-rata. “Otak pengidap disleksia membaca  dengan cara yang tak sama dengan mereka yang tak mengidap disleksia. Biasanya mereka memiliki keunggulan di bidang  visual-spasial, kesadaran sosial, penyelesaian masalah, geometri, atau  computer.

%d bloggers like this: