Pembagian Multiple Sclereosis Berdasarkan Gejalanya

Pembagian Multiple Sclereosis Berdasarkan Gejalanya

1Multiple sclerosis merupakan penyakit yang menyerang sistem saraf. Kerusakan terjadi pada selubung myelin yang menutupi sel saraf. Hal ini akan menyebabkan pembentukan plak pada saraf sehingga terjadinya multiple sclerosis. Menurut Prof Jusuf Misbach, SpS, yang disampaikan dalam media diskusi tentang penanganan multiple sclerosis, penyakit ini memiliki gejala yang bervariasi.

Gejala pada penderita yang satu bisa berbeda dengan yang lainnya. Meski demikian, tetap ada gejala-gejala umum yang biasa dialamai penderita, seperti penglihatan kabur, kemampuan berjalan tidak stabil, otot terasa kaku dan mengalami kelelahan yang berlebihan. Gejala lainnya, sensitive terhadap udara panas, juga terasa nyeri atau kebas pada salah satu atau lebih anggota tubuh.

Kemudian pada kondisi ekstrem(jarang terjadi), muncul gangguan kemampuan berbicara, sulit menelan, dan gangguan kemampuan kognitif berupa kehilangan memori jangka pendek. Gejala-gejala awal biasanya ringan dan hilang dengan sendirinya tanpa diobati. Tetapi dengan berjalannya waktu bisa bertahan dan makin berat. Sekitar lima puluh persen dari pasien-pasien mengalami perubahan-perubahan mental seperti kemampuan konsentrasi berkurang, memurunnya perhatian, sedikit kehilangan ingatan, ketidakmampuan melakukan tugas-tugas secara berurutan, atau gangguan dalam mengambil keputusan/pertimbangan.

Berdasarkan gejalanya multiple sclerosis dibagi menjadi 4, antara lain:
* Benign

Jenis ini gejala awalnya sangat ringan sehingga tidak mengganggu kehidupan.
* Relapsing remitting

Penderita telah mengalami beberapa kekambuhan, dan diikuti kesembuhan sebagian atau seluruhnya sehingga penyakitnya tidak berkembang lagi.
* Secondary progressive

Setelah diagnosa awal diketahui menderita multiple sclerosis, 10 tahun kemudian biasanya penderita tidak memiliki kemampuan apa-apa.
* Primary progressive

Jenis ini, perjalanan penyakitnya lambat, tetapi terus berkembang.
Tidak mudah mendiagnosa penyakit ini. Dalam banyak kasus, diperlakukan waktu beberapa lama hingga diperoleh diagnose yang tepat. Umumnya penyakit ini dapat didiagnosa setelah mendapatkan sejarah klisnis secara rinci dari pasien dan menjalani tes saraf secara menyeluruh.

2Perempuan lebih rentan terjangkit penyakit penyakit ini daripada pria. Perbandingannya 2:1. Tidak diketahui dengan pasti alasannya mengapa cenderung menyerang wanita. Berdasarkan usia, biasanya menyerang orang dewasa muda 22-39 tahun. Tetapi serangan sebenarnya bisa meluas hingga mencapai usia 10-59 tahun. Yang jelas, penyakit ini jarang menyerang orang usia dibawah 10 tahun. Penyebab pasti penyakit ini belum diketahui. Namun para ahli menduga ada kaitannya dengan faktor genetis yang dipicu oleh faktor lingkungan. Bila orang tua menderita, anaknya beresiko pula menderitapenyakit yang sama. Faktor lingkungan sangat memengaruhi. Berdasarkan data yang ada penyakit ini lebih sering menyerang yang tinggal jauh dari garis khatulistiwa. Belum dapat dijelaskan mengapa demikian. Tetapi, diduga ada kaitannya dengan faktor lingkungan, seperti bakteri atau virus yang bisa menyebabkan kerusakan mielin. Kendati virus diduga sebagai penyebabnya, tetapi tidak ada bukti ynag pasti ketekaitan suatu virus dnegan penyakit ini. Penyakit ini dianggap sebagai gangguan autoimun. Artinya, sistem imun tubuh orang itu menyerang sel sehat, ketika hal itu terjadi, mielin, yakni selaput pelindung yang mengelilingi saraf pada otak, susmsum tulang belakang dan saraf optik mata, dihancurkan dan digantikan oleh jaringan parut. Akhirnya kerusakan akan menggangu komunikasi saraf antara otak, sumsum tulang belakang dan saraf mata.

yang dicari :

%d bloggers like this: