Pemeriksaan Fisik Pada Asbestosis

Pemeriksaan Fisik Pada Asbestosis

Pemeriksaan Fisik Pada AsbestosisAsbestosis adalah suatu penyakit saluran pernafasan yang terjadi akibat menghirup serat-serat asbes, dimana pada paru-paru terbentuk jaringan parut yang luas. Asbestos terdiri dari serat silikat mineral dengan komposisi kimiawi yang berbeda. Jika terhisap, serat asbes mengendap di dalam dalam paru-paru, menyebabkan parut. Menghirup asbes jugs dapat menyebabkan penebalan pleura atau selaput yang melapisi paru-paru.

Asbestosis

Asbestosis dan abses pleural adalah penyakit non malignant yang pelan-pelan menjadi progresif. Asbes ini dapat menyebabkan perusakan atau palemahan pada fungsi paru termasuk pengurangan kapasitas paru, pembatasan bernafas, serfs penurunan kemampuan untuk memindahkan oksigen dari udara kedalam darah. Dalam literature lain menyebutkan bahwa asbestosis adalah proses interstitial yang perlahan-lahan berkembang menjadi fibrosis paru-paru non­nodular difus yang mengenai saluran nafas terminal, alveoli dan pleura.

Adanya imflamasi akan merangsang makrofag di alveolus. Asbes akan mengaktivasi makrofag untuk menghasilkan berbagai faktor pertumbuhan, mencakup fibronectin, dan platelet, yang sating berhubungan untuk mempengaruhi pertumbuhan fibroblas. Oksigen bebas seperti superoxide anion, peroksida hidrogen, hydroxy dilepaskan oleh makrofag merusakkan protein dan lipid yang mendukung proses inflamasi. Suatu penggerak plasminogen, yang jugs dilepaskan oleh makrofag, menimbulkan kerusakan interstitium paru-paru lebih lanjut dengan penurunan matriks glikoprotein.

Asbestosis adalah penyakit non malignant yang secara perlahan-lahan menjadi progresif, dimana dapat menyebabkan kerusakan dan penurunan fungsi pada paru yang bila tidak ditangani dengan baik dapat berpotensi fatal. Mesotelioma merupakan komplikasi dari asbestosis yang berakibat fatal dan sulit disembuhkan. Penyebab kematian seringkali adalah infeksi paru yang hebat, korpulmonale atau kanker.

Dilihat dari sudut pandang ilmu kimia, asbes adalah suatu zat terdiri dari magnesium-calcium-silikat berbangun serat dengan sifat fisiknya yang sangat kuat. Ada dua kelompok asbes, yaitu serpentine dan amphibole. Asbes dapat diperoleh dengan berbagai metode penambanran bawah tanah, namun yang paling umum adalah melalui penambangan terbuka (open-pit mining). Asbes ditambang secara komersial di Amerika Serikat sejak akhir abad ke-18, dan pemakaiannya meningkat drastis sejak Perang Dunia II. Sejak saat itu, asbes mulai dipakai sebagai bahan baku industri.

Pemanfaatan asbes mengandung risiko radiologis karena bahan ini dapat berperan sebagai sumber gas radon yang bersifat radioaktif, sehingga dapat berperan sebagai sumber radiasi lingkungan yang perlu diwaspadai. Oleh sebab itu, perlu adanya pertimbangan radioekologis dalam pemanfaatan bahan asbes dalam berbagai jenis produk. Saat ini mulai disadari bahwa gas radon di dalam ruangan merupakan sumber terpenting pemaparan radiasi. Dosis efektif dari radon diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan dosis dari seluruh sumber-sumber radiasi alamiah lainnya digabung menjadi satu, lebih besar dari dosis yang diterima pasien yang mengalami penyinaran medis termasuk pemeriksaan dengan sinar-X, dan jauh lebih besar dibandingkan dengan dosis radiasi dari kegiatan industri nuklir.

Pemeriksaan Fisik Pada Asbestosis

Lamanya paparan dan banyaknya asbes yang dihirup mempengaruhi keparahan penyakit. Orang-orang dengan asbestosis yang merokok, terutama sekali mereka yang merokok lebih dari satu bungkus per hari, resiko meningkat pengembangan kanker paru-paru dan harus betul-betul dinasehatkan untuk berhenti atau meninggalkan merokok. Angka kejadiannya adalah sebesar 4 diantara 10.000 orang.

Manusia telah mengenal bahan asbes sejak abed ke-2 Sebelum Masehi. Beberapa abad kemudian, Marco Polo memanfaatkannya sebagai bahan untuk membuat pakaian.

Sebagaimana bahan tambang pada umumnya, asbes merupakan batuan yang mampat, namun sangat mudah untuk dipisah-pisahkan menjadi banyak sekali serat­serat halus yang umumnya sangat ringan dan mudah terbang.

Serabut yang terinhalasi, mencapai alveolus ditelan oleh makrofag alveolar, merangsang terlepasnya C5a dan penarik kimia (kemoatraktan) lainnya. Ambifol (lurus, kaku) mencapai paru bagian dalam lebih dari pada serabut serpentin, menyebabkan patogenitas lebih besar. Kebanyakan asbestos terinhalasi dibersihkan oleh makrofag, sisanya mencapai interstisium dan pembuluh limf. Beberapa serabut yang terinhalasi dibungkus oleh hemosiderin dan glikoprotein untuk membentuk jicin asbestos yang berbentuk halter, bermanik­-manik, dan karakteristik.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan:

* terdengar suara ronki keyingPemeriksaan Fisik Pada Asbestosis

* diikuti dengan keluhan takipnue, dan sianosis

* dapat terlihat adanya jari tabuh.

* Pergerakan dada menjadi berkurang

* pada stadium lanjut dapat ditemukan kor pulmonal dan mungkin gagal jantung

Penyaringan terhadap para pekerja yang beresiko dapat mengungkapkan inflamasi pada paru-paru dan karakteristik lesi dari asbestosis. Rekam medis pasien dapat mengidentifi-kasi pekerjaan, kegemaran, atau hal lain yang mungkin dapat merupakan faktor yang melibatkan ekspose serabut asbes.

%d bloggers like this: