Pencegahan Dan Komplikasi Bell’s Palsy

Pencegahan Dan Komplikasi Bell’s Palsy

1Secara ilmiah Bell’s palsy atau prosoplegia adalah kelumpuhan fasialis (saraf diwajah) akibat paralisis nervus fasial perifer (kelumpuhan saraf diwajah) yang terjadi secara akut (cepat) dan penyebabnya tidak diketahui (idiopatik) di luar sistem saraf pusat (diluar otak dan saraf ditulang belakang) tanpa disertai adanya penyakit neurologis (saraf) lainnya. Bell’s palsy ditemukan oleh Sir Charles Bell, seorang dokter berkebangsaan Skotlandia pada abad ke 19. Gejala paling nyata wajah terlihat miring. Ketika senyum setengah wajah penderita Bell’s palsy tetap diam (tidak bisa tersenyum lebar). Orang-orang tua dulu menyebutnya sebagai penyakit akibat kena angin malam atau karena habis bertabrakan dengan makhluk halus. Bell’s palsy berbeda dengan stroke walau gejala kelumpuhannya mirip.

Sepertiga dari penderita Bell’s palsy dapat sembuh seperti sedia kala tanpa gejala sisa. 1/3 lainnya dapat sembuh tetapi dengan elastisitas otot yang tidak berfungsi dengan baik. Penderita seperti ini tidak memiliki kelainan yang nyata. 1/3 sisanya cacat seumur hidup. Penderita Bell’s palsy dapat sembuh total atau meninggalkan gejala sisa.

*) Pencegahan Bell’s Palsy
– Hindari mandi di malam hari.
– Hindari kebiasaan langsung mandi atau mencuci muka sehabis berolahraga .
– Hindari terpaan angin langsung ke wajah, utamanya angin dingin.
– Perbaiki system pertahanan tubuh (system imunitas).

 

*) Komplikasi Bell’s Palsy
2* Crocodile tear phenomenon

Yaitu keluarnya air mata pada saat penderita makan makanan. Ini timbul beberapa bulan setelah terjadi paresis dan terjadinya akibat dari regenerasi yang salah dari serabut otonom yang seharusnya ke kelenjar saliva tetapi menuju ke kelenjar lakrimalis. Lokasi lesi di sekitar ganglion genikulatum.
* Synkinesis

Dalam hal ini otot-otot tidak dapat digerakkan satu per satu atau tersendiri. selalu timbul gerakan bersama. Misal bila pasien disuruh memejamkan mata, maka akan timbul gerakan (involunter) elevasi sudut mulut,kontraksi platisma, atau berkerutnya dahi.Penyebabnya adalah innervasi yang salah, serabut saraf yang mengalami regenerasi bersambung dengan serabut-serabut otot yang salah.
* Tic Facialis sampai Hemifacial Spasme

Timbul “kedutan” pada wajah (otot wajah bergerak secara spontan dan tidak terkendali) dan juga spasme otot wajah, biasanya ringan.Pada stadium awal hanya mengenai satu sisi wajah saja, tetapi kemudian dapat mengenai pada sisi lainnya. Kelelahan dan kelainan psikis dapat memperberat spasme ini. Komplikasi ini terjadi bila penyembuhan tidak sempurna, yang timbul dalam beberapa bulan atau 1-2 tahun kemudian.

%d bloggers like this: