Perkembangan Terapi Kedokteran Untuk Penyakit Multiple Sclerosis

Perkembangan Terapi Kedokteran Untuk Penyakit Multiple Sclerosis

3
Penyakit Multiple Sclerosis adalah penyakit autoimun di mana sel darah putih yang bernama limfosit T yakni kelompok sel T-helper17 mengenali protein selubung pembungkus saraf yakni myelin  milik diri sendiri sebagai zat asing (antigen). Reaksi selanjutnya adalah aktivasi kelompok sel T sitotoksik, sel makrofag, monosit dan mikroglia serta sistem komplemen untuk menyerang atau menghancurkan saraf tersebut. Peristiwa pertama ini terjadi di sawar darah-otak, letaknya sekitar pembuluh darah dekat ruang berisi cairan serebrospinal di otak (ventrikel otak). Kejadiannya akut (mendadak atau tiba-tiba) dan seringkali belum ada gejala yang terlihat secara umum. Pada perkembangan selanjutnya (fase relaps), reaksi peradangan lebih hebat dipicu oleh hadirnya sel dendritik dan sel limfosit B yang menghasilkan antibodi terhadap selubung myelin dan lokasinya menyebar,  selain di jaringan otak juga mengenai persarafan di sumsum tulang belakang dan otonom.
Di seluruh dunia, diperkirakan 2,1 juta orang mengalami penyakit MS. Jika dibiarkan tanpa terapi, sekitar > 30% pasien dengan MS akan menderita cacat fisik secara lambat-progresif dalam jangka waktu 20-25 tahun sejak pertama kali muncul. Sebagian kecil,

Terapi untuk penyakit MS meliputi dua strategi, pertama adalah modifikasi proses peradangan yang disebabkan reaksi autoimun dan kedua adalah terapi untuk menangani gejala-gejala MS.
Obat-obatan yang diindikasikan untuk penyakit MS, beredar di Indonesia dan dilaporkan dalam jurnal-jurnal kedokteran adalah sebagai berikut:

   
*) Kortikosteroid
   
1Obat anti peradangan ini diberikan dalam fase akut MS, dalam kasus-kasus emergency, maka  diberikan steroid intravena, immunoglobulin intravena atau plasma pheresis. Jenis obat kortikosteroid yang diberikan adalah Methyl prednisolon. Selain itu dalam fase akut, Dexamethasone juga dapat diberikan oleh Dokter.
   

*) Interferon-ß (IFN-ß)
   
Terapi ini sudah teruji dan diakui di dunia kedokteran untuk terapi MS pada serangan pertama dan relapsing-remitting MS (RRMS). Hasil terapi menunjukkan pengurangan lesi-lesi sklerosis secara cepat dari pantauan MRI. Di Indonesia, Interferon-ß (IFN-ß)-1b dan Interferon-ß (IFN-ß)-1a beredar dalam bentuk obat paten dengan sistem injeksi, dosis dan pemberian obat harus dalam pantauan Dokter.
   

*) Glatiramer
   
Uji klinis terhadap 251 pasien dengan relapsing-remitting MS (RRMS) terdapat penurunan angka kekambuhan (relaps) sebesar 29% selama 2 tahun, juga melambatnya proses munculnya cacat fisik. Di Indonesia, beredar Glatiramer Acetate, obat paten dalam bentuk injeksi ke kulit pasien. Pemberian obat hanya dilakukan oleh Dokter.
   

*) Cyclophospamide
  
Ini adalah obat pilihan untuk stabilisasi MS yang agresif. Pemberian infus Cyclophospamide dosis tinggi selama 4 hari dilanjutkan dengan pemberian Glatiramer jangka panjang dilaporkan cukup ditoleransi pasien, efektif menurunkan resiko relaps, progresivitas ke kecacatan dan lesi MS yang baru.
   

*) Alemtuzumab
   
2Antibodi terhadap CD52 yang bekerja untuk menurunkan jumlah sel-sel limfosit T di peredaran darah. Dilaporkan mengurangi reaksi peradangan secara signifikan. Di Indonesia beredar satu jenis obat paten dalam bentuk infus dan dilakukan bertahap selama 3x per minggu selama 12 minggu. Pasien dirawat inap selama pengobatan. Obat ini masih digolongkan dalam tahap eksperimental.
Obat-obatan MS lainnya yang beredar di luar negeri untuk memodifikasi atau memperlambat progresivitas MS di antaranya: Natalizumab, Fingolimod, Teriflunomide, laquinomid dan dymethil furoate. Ketiga terakhir masih dalam tahap eksperimental.

Obat-obatan yang bertujuan untuk mengurangi gejala-gejala MS, indikasinya sesuai dengan gejala yang timbul. Sebagai contoh untuk dua keluhan yang sering dialami pasien MS, yakni nyeri dan fatigue. Obat-obatan seperti amantadine, methylphenidate dan fluoxetine diberikan untuk mengatasi gejala fatigue. Obat-obatan anti nyeri seperti ibuprofen, aspirin diberikan sesuai indikasi.

%d bloggers like this: