Resiko Terkena Hipotensi Ortostatik

 Resiko Terkena Hipotensi Ortostatik

resiko terkena hipotensi ortostatikOrthostatic hypotension (hipotensi ortostatik/hipotensi postural), terdiri dari dua kata, yaitu orthostatic yang berarti postur tubuh saat berdiri dan hypotension yang berarti tekanan darah rendah. Artinya, ini adalah keadaan dimana terjadi penurunan darah yang tiba-tiba saat perubahan posisi dari duduk menjadi berdiri. 
   
Hipotensi ortostatik adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan penurunan dalam tekanan darah ketika seseorang berdiri (postur ortostatik = tegak tubuh, hypo = kurang + tension = tekanan).
   
 Hipotensi ortostatik didefinisikan sebagai penurunan tekanan darah sistolik 20 mm Hg atau penurunan tekanan darah diastolik dari 10 mm Hg dalam waktu tiga menit berdiri bila dibandingkan dengan tekanan darah dari posisi duduk atau telentang. Ini hasil dari respon fisiologis tidak memadai terhadap perubahan tekanan darah postural.
Jika penyebab hipotensi ortostatik tidak dapat diobati, maka yang dapat dilakukan adalah mengurangi atau menghilangkan gejalanya. Orang yang rentan sebaiknya tidak duduk atau berdiri secara tiba-tiba, atau tidak berdiri terlalu lama.

Jika tekanan darah rendah disebabkan oleh pengumpulan darah di tungkai, bisa digunakan stoking elastik. Jika penyebabnya adalah tirah baring yang lama, penderita bisa mengatasi keadaan ini dengan duduk tegak untuk waktu yang lebih lama setiap harinya.

Efedrin atau fenilefrin bisa membantu mempertahankan tekanan darah. Volume darah juga dapat ditambah dengan meningkatkan asupan garam dan jika perlu bisa diberikan hormon yang menyebabkan tertahannya garam (misalnya fludrocortisone). Penderita yang tidak memiliki kegagalan jantung atau tekanan darah tinggi sering dianjurkan untuk menambahkan garam pada makanan mereka secara bebas atau dianjurkan untuk memakan tablet garam.

Orang tua dengan hipotensi ortostatik sebaiknya banyak minum air dan sedikit atau jangan minum alkohol. Jika pengobatan diatas gagal, bisa diberikan obat lainnya (propanolol, dihydroergotamine, indometasin dan metoclopramide).
Beberapa orang yang dapat terkena resiko hipotensi Ortostatik, diantaranya:

   
*) Hipotensi ortostatik merupakan penyakit kelemahan dan kronik yang biasanya berhubungan dengan hipofungsi serebral yang dapat terjadi pada siapa saja pada segala tingkat usia,  hanya saja ada kecenderungan peningkatan prevelensi seiring pertambahan usia yang jauh lebih umum terjadi pada orang tua.
   
*) Tingginya prevalensinya terjadinya hipotensi ortostsatik  pada orang tua,  sangat bervariasi tergantung pada kondisi medis yang mendasari, misalnya kondisi-kondisi neurologik seperti, diabetic neuropathy, Parkinson disease. Jika hipotensi ortostatik terjadi pada individu dewasa muda, hal itu cenderung disebabkan oleh dehidrasi, bedrest berkepanjangan (yaitu, deconditioning), perdarahan berlebihan atau dysautonomia (disfungsi otonom).
  
*) Beberapa survei epidemiologi telah menemukan hipotensi postural dalam sebanyak 20 persen pasien di atas usia 65 dan 30% dengan usia di atas 75 tahun menderita gangguan ini, morbiditas dan mortalitas akibat jatuh dan sinkope pada usia lanjut sering berhubungan dengan gangguan ini. Banyak pasien dengan hipotensi postural memiliki hipertensi sistolik ketika duduk atau telentang. Prevalensinya akan sangat meningkat pada orang tua di panti jompo atau bangsal geriatri (50% dan 68%, masing-masing). 
   
*) Tingginya prevalensi antara pasien tua mungkin mencerminkan adanya berbagai faktor risiko pada populasi ini, seperti: 
       
rresiko terkena hipotensi ortostatik* Penyakit neurodegenerative yang menyebabkan hipotensi ortostatik,
       
* Penggunaan obat-obat yang dapat merusak respon yang tepat terhadap perubahan postural (misalnya, antihipertensi, antidepresan, vasodilator, termasuk nitrat dan calcium channel blockers, (trisiklik dan fenotiazin) antidepresan, opiat, dan alkohol)
       
* sensitivitas baroreseptor yang diakibat-kan oleh proses atherosklerosis sekitar sinus karotikus dan arkus aorta; hal ini akan menyebabkan tak berfungsinya refleks vasokonstriksi dan peningkatan frekuensi denyut jantung sehingga mengakibatkan kegagalan pemeliharaan tekanan arteri sistemik saat berdiri:
       
* Menurunnya daya elastisitas serta kekuatan otot ekstremitas inferior.

You may also like...

%d bloggers like this: